Selasa, 18 April 2017

cerpen

Teman Tiri.
Karya : M Primanggita Aji K
            Samsudin seorang penjual jajanan keliling desa, selesai berkeliling desa samsudin mampir pada warung langganan untuk minum-minum es sambil istirahat dan berfikir bagaimana cara mendapatkan uang lebih untuk di tabung agar bisa untuk biaya istrinya melahirkan.  Setelah selesai istirahat samsudin pun berjalan berjualan sambil berjalan pulang.
“assalamualaikum bu.”
 “walaikumsalam. Eh bapak udah pulang ? tumben bapak pulang cepet ?”
“iya bu. Dagangan juga sudah tinggal sedikit ini mending yang ini buat makan kita saja. Oh iya bu bapak haus bu tolong ambilkan air minum bu.
“tunggu sebentar pak ( keluar membawa segelas air putih).”
“terima kasih bu. Iya sekarang gmna kandugannya bu ?.”
“baik pak seperti biasanya pak, cuman akhir-akhir ini ibu pengin mangga  muda pak, pengin yang asam-asam begitu.”
“hmm ibu lagi ngidam nih, iya udah besok bapak cari ke pasar bu sekalian berjualan di pasar. Lagian lama juga bapak sudah tidak mangkal di pasar bu.
“baiklah pak. Oh iya pak ini misri bagaimana ya pak sudah 3 hari panasnya naik turun terus pak ?”
 “bagaimana bu ? apa lebih baik bawa ke puskesmas saja bu biar lebih jelas lagi ?.”
 “baiklah pak. Ini juga buat kebaikan misri.”
 “besok bapak pulang agak cepat bu.”
 “iya pak.”
 “ayo bu ke puskesmas untuk periksa kan misri.”
 “baik pak, sebentar ibu ganti baju dulu.”
Berangkat dari rumah langsung bertemu dokter di puskesmas.
“anak bapak terkena DBD dan harus di opnam di sini agar cepat sembuh, kira-kira 2 hari bapak untuk mendapatkan obat dan istirahat yang cukup.”
 “baiklah dok. Terima kasih.” “sama-sama. Semoga lekas sembuh pak.”
            Akhirnya misri di rawat di puskesmas. Dan esoknya bapak pulang untuk berdagang ke pasar lagi karena merasa daganganya lebih cepat habis jika keliling desa. Ketika dagangannya habis samsudin berjalan pulang, namun hari itu terlihat panas sekali akhirnya mampir ke warung langganan untuk minum es dan sambil berfikir bagaimana dapet uang lebih untuk membayar biaya opnam misri dan biaya sehari-hari untuk istrinya yang sedang hamil. Ketika segelas es mualai habis teringat dengan yusuf yang pernah meminjam uang lima juta rupiah untuk modal usaha buka wartegnya mungkin aku bisa memintanya kembali.
 “assalamuilaikum yusuf.”
“walaikumsalam. Siapa ya ?”
“ini aku samsudin temen lama mu.”
“oh iya din ,apa kabar kamu sekarang ?”
“baik suf, kamu sendiri ?”
“baik din. Sekarang gimana kamu ?”
“masih seperti biasa suf masih berdagang namun alhamdulilah daganganku laris  mungkin karena sering kau unggah di dunia maya tentang jajanan ku ini.”
 “hehheeh bisa saja kau din. Ini kan sudah jadi rezekinya kamu juga.”
“iya amin suf semoga berkah suf. Oh iya din kita bisa bertemu engga ya soalnya hal yang ingin aku ceritakan , ketemu di warung biasa saja, tempat kita biasa  bertemu.”
“oh iya din bisa bisa. Kapan emangnya ?”
 “bagaimana kalau besok siang ?”
 “oke din bisa.”
 “yaudah suf . sampai jumpa besok.”
“Sesampainya di tempat yusuf dan samsudin pun bercerita ke sana-kemari, hingga pada satu Samsudin ingin bercerita serius.”
“yuf, aku minta maaf sebelumnya..”
  “iya, ada apa din ? kaya engga biasanya saja.”
 “begini suf, anakku si misri lagi di opnam karena lagi terkena DBD dan istriku lagi hamil juga butuh biaya besar suf.”
 “terus aku bisa bantu apa din ?”
“pas waktu itu kan kamu pernah pinjam uang suf ya lima juta untuk modal buka warteg”
“Kamu. Bisa di kembalikan secepatnya suf ? uang itu untuk aku gunakan membayar opnam anakku yang kena DBD di puskesmas dan buat biaya sehari-hari istriku.”
“hah hutang ? bukannya aku sudah bayar 3 bulan yang lalu din ? apa kamu tidak ingat itu ?”
“aku tidak merasa menerima uang dari kamu suf.”
“ah aku sudah bayar hutang kepada kamu din. Aku tidak mau bayar utang lagi , bisa-bisa aku rugi nanti din.”
“yaudah lah gini aja suf bagaimana aku bekerja di tempat usaha kamu biar bisa aku tambah-tambah penghasilan ku , aku kerjanya setelah berjualan jajanan aku suf”.
“yaudah din . yang penting aku nga mau bayar utang lagi, karena aku rasa sudah bayar hutang ku padamu yang lima juta itu din.”

  Akhirnya samsudin bekerja pada tempat ysusuf bekerja.

Selasa, 20 Desember 2016

bareng dosen wali ..


Menanggapi tulisan dari Prof Dr Ir Saratri Wilonoyudho, MSI. Seharus Semarang melakukan survey tempat yang akan di jadikan sebagai lahan pembangunan agar tidak terjadi kesalahan dalam pembangunannya. Seperti yang di ketahui saat ini Semarang banyak bangunan pencakar langit, dan terus membagun bangunan tesebut tanpa menghiraukan dampak dari pembangunan tersebut.
            Jika seperti ini terus menerus semarang akan menjadi jakarta kedua yang setiap musim hujan tiba menjadi langganan banjir. Akhirnya masyarakat pun kena imbas banjir tersebut, masyarakat pun susah beraktivitas karena banjir tersebut perekonomian mereka pun pasti terganggu. Sebaiknya jika ingin membangun bangunan perhatikan juga daerah resapan tersebut agar air hujan tidak meluap kejalanan dan tidak menyebabkan banjir di berbagai daerah.
           

Sediakan juga ruangan hijau kota agar dapat meresap uap panas yang di hasilkan dari kendaraan bermotor, ruang hijau tersebut juga banyak manfaatnya jika di maksimalkan secara se utuhnya. Marilah kita selamatkan Semarang dari banjir di setiap tahunnya, dengan melakukan jangan membuang sampah sembarangan,beri ruang untung resapan air hujan,membangun tempat juga perhatikan resapan airnya.

UPGRIS Bersastra

Semarang. Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS). Setiap tahun rutin memperingati bulan bahasa yang jatuh pada bulan oktober. Salah satu dari agenda bulan bahasa adalah UPGRIS Bersastra yang bertemakan 3 buku,3 pembaca,3 kritikus dan 1 pengarang. Pengarang tersebut adalah Trianto Triwikromo seorang pengarang yang sudah berpengalaman dalam bidang penulisan sebuah novel dan puisi. Pembukaan di buka oleh Biscuit Time, pemusik yang menyukai sastra dari Trianto Triwikromo, kemudian sambutan bapak rektor UPGRIS untuk membuka acara UPGRIS Bersasta yang bertemakan 3 buku 3 pembaca 3 kritikus dan 1 pengarang, setalah sambutan kemudian di isi oleh teatrikal,pembacaan puisi yang di eja oleh bebrapa mahasiswa,dan tari balet, begitu tari ba;et tampil beberapa mahasiswa sangat histeris dan menikmati hiburan tari balet itu karena di bawakan dengan begitu romantis.
Upgris bersastra di bawakan oleh dR. Harjito sebagai host dalam acara tersebut, 3 pembaca 3 kritikus itu adalah Nur Hidayat, Prasetyo Utomo dan Widyan Eko, ketiganya adalah pecinta buku dari Trianto Triwikromo dan suka mengkritik dan merensensi buku-buku yang bagus. Sebelum di mulainya sebuah acara host yang membawakan acara tersebut ingin mendengar bapak rektor membaca salah satu puisi dari karya Trianto Triwikromo, bapak rektor membacakan sebuah puisi yang berjudul “takziah”, yang tidak di guga oleh mahasiswa adalah ternyata bapak rektor juga mempunyai bakat bernyanyi sambil bermain gitar lagu yang di bawakannya adalah lagu yang pernah dia bawakan ketika masih muda untuk pementasan sebuah drama yang di adakan oleh desanya. Di lanjutkan pembacaan puisi dan nembang jawa oleh Wakil Rektor 1 yaitu ibu dr Sri Suciati yang duet bersama mahasiswinya untuk nembang jawa di hadapan bapak rektor UPGRIS dan Trianto Triwikromo, puisi yang di bacakan berjudul “Selir Musim Panas” begitu indah dan bagusnya yang di bawakan oleh wakil rektor 1 membuat kami para penonton merasa terpesona dengan penampilan itu.
            Kemudian sampai pada acara kritikan dari 3 kritkusan tersebut. Yang pertama mengkritik adalah Nur Hidayat yang mengkritik buku yang berjudul “Sesat Pikir Para Binatang” itu bahasanya sulit di pahami dari pembaca yang membuat pembaca pusing 7 keliling untuk memahami 1 buku karangan Trianto Triwikromo. Yang kedua adalah Prasetyo utomo menurutnya novel Trianto Triwikromo suda memiliki semuanya dari alur,latar dan setting sudah bagus sekali tetapi dalam membaca novel Trianto Triwikromo harus menggunakan metode tertentu agar cepat mudah di pahami oleh si pembaca tersebut. Yang terakhir adalah Widyan Eko mulai mengkritik dengan menggunakan prolog bagaimana dia mulai mengenal Trianto Triwikromo dan bagaimana dia mulai menyukai karya dari Trianto Triwikromo. Puisi dari trianto triwikromo pun sangat sulit di pahami oleh widyan eko dan para pembaca lainnya, menurut widyan eko untuk memahami 1 karya puisi dari trianto triwikromo harus minimal membaca 4 buku karya trianto triwikromo. Puisi trianto triwikromo sangat bermakna maka dari itu sulit untuk di pahami.
            Para kritikus ini pun sangat bangga bisa mengenal Trianto Triwikromo dan bisa menikmati karyanya. Ketiga kritikus pun menyimpulkan bahwa trianto triwikromo sangat lah sebentar untuk membuat karya yang bisa sebagus ini, karya ini pun membutuhkan sebuah perjuangan yang sangat luar biasa. Trianto Triwikromo sangat lah menginspirasi generasi muda untuk terus membuat karya.
            Mendekati akhir acara trianto triwikromo pun naik panggung untuk menceritakan sedikit dari pengalamannya bagamna dia bisa sesukses ini. Trianto Triwikiromo membutuhkan waktu selama 30 tahun berkarya tanpa terhenti mulai dari menulis dalam dalam buku sendiri,membuat puisi sampai membuat esai yang di muat dalam beberapa koran. Semua yang di lakukan trianto triwikromo bukan tanpa perjuangan dan kerja keras dia sangat bersungguh-sungguh untuk membuat sebuah karya yang sangatlah bagus, membuat sebuah novel yang sampai di  cetak dan di jual belikan di toko buku seperti gramedia dan lain-lain. Sebuah karya pasti ada yang kembali dan juga ada yang hilang, bagaimana kita menjaga sebuah karya tersebut agar tetep ada walau ada karya-karya yang lebih bagus berdatangan,hargailah sebuah karya yang pernah ada sebagaimana engkau menghargai karya yang engkau ciptakan sendiri. Kalimat penutup dari Trianto Triwikromo “Selalu ada yang hilang, selalu ada yang tak kembali” salah satu kutipan dari bukunya.
            Acara kali ini sangatlah sukses karena banyak mahasiswa dan dsoen yang ikut hadir dalam acara tersebut,banyak juga pelajaran yang dapat kita ambil dari UPGRIS Bersastra 3 buku,3 pembaca,3 kritikus dan 1 pengarang. Puncak dari bulan bahasa adalah nanti pada tanggal 27 oktober yaitu pawai budaya yang bertempat pada balairung Universitas PGRI Semarang, acara tersebut di meriahkan oleh seluruh mahasiswa UPGRIS, acara tersebut di isi dengan lomba pentas tari kreasi dan tari bersama dengan dosen dan mahasiswa. Yang unik dari pawai budaya tahun ini adalah tidak boleh seragam sekelas, yang berarti minimal satu kelas akan ada 2 pakaian adat yang berbeda, karena untuk tahun ini ketika memakai pakaian batik semua kurang meriah sehingga taun ini di buat lebih berwarna
Jaka Tarub dan Nawang wulan

Ulasan dari cerita Rivan Pramono sangatlah menarik hampir semua terulas tanpa adanya sedikit pun yang terlewatkan, dari suasana desa sampai keadaan jaka tarub pada zaman dahulu semuanya lengkap. Hampir tak ada bosannya jika melihat sebuah drama jika di bawakan dengan sesuatu yang baru, dengan dikemas sedikit komedi di dalamnya tentu penonton tidak akan bosan dengan drama tersebut walau sudah banyak di tayangkan di TV. Apalagi kalau seorang pemain drama itu cantik dan tampan dan bisa dengan baik mambawakan perannya dengan bersungguh-sungguh membuat penonton betah berlama-lama melihat sebuah drama tersebut. Dari cerita jaka tarub menggunakan alur maju mundur, karena awal drama terdapat seorang laki-laki yang tidur di depan rumah ketika bulan purnama tiba,laki-laki itu bernama jaka tarub. Jaka pun terbangun dengan memanggil nama anaknya tersebut, anak itu bernama nawangsih. Nawangsih yang mendengar suara bapaknya langsung berlari keluar untuk menemui bapaknya tersebut dan bertanya “bapak kenapa? Setiap bulan purnama selalu tidur di luar rumah”, “bapak tidak apa-apa nak”.
            Di ulasan yang di ceritakan rivan tidak menceritakan kedua tokoh yang menjadi bahan komedi untuk pementasan drama “Jaka Tarub” yang membuat seolah-olah cerita itu alami. Ketika jaka tarub bertemu nawang wulan dan menikah kan tidak mungkin mereka langsung hamil, maka dari itu kedua tokoh tersebut menjadi sangat penting agar cerita seolah-olah benar ada penduduk lain selain jaka tarub dan nawang wulan. Setelah berjalan beberapa bulan lahirlah seorang anak dari jaka tarub dan nawang wulan kemudian di beri nama nawangsih yang begitu cantik mirip dengan ibunya tersebut. Saat itu jaka tarub mulai penasaran ketika lumbung padi di rumahnya tidak pernah habis, jaka tetap penasaran dan ingin membuka atau melihat sedikit apa yang ada dalam wadah penanak nasi itu.
 Ketika itu nawang wulan akan pergi ke sungai nawangsih pun di titipkan pada jaka tarub, jaka tarub pun masuk ke dalam rumah dan membuka penanak nasi, jaka pun terkejut ketika melihat apa yang di masak nawang wulan yaitu hanya lah setangkai padi. Ketika sampai rumah jaka pun bertanya kepada nawang wulan kenapa yang dimasak hanya lah setangkai padi, nawang pun menjawab kakang lupa kalau aku ini seorang bidadari yang bisa membuat setangkai padi menjadi nasi yang cukup untuk kita makan, maka dari itu lumbung padi kita tidak pernah habis kakang. Setalah nawang wulan marah, gdia pun masuk ke dalam rumah dan mengambil selendang yang membuatnya bisa kembali ke kayangan. Akhirnya nawang wulan pun kembali ke negeri asalnya yaitu negeri kayangan. Jaka dengan berbagai cara membujuk nawang wulan agar tidak kembali ke negeri asalnya pun tidak berhasil. Namun nawang wulan akan tetap memenuhi kewajibannya sebagai ibu dari nawang sih yaitu untuk bertemu dia dengan syarat ketiks bulan purnama bawalah dia ke air terjun itu dengan syarat  jangan sampe ada orang yang tau dan melihatnya.
Akhirnya nawang wulan pergi dari bumi dan kembali ke kayangan, jaka tarub hanya bisa menangisi nawang wulan yang pergi, jaka begitu menyesal dengan membuka penanasak nasi yang akhirnya nawang wulan pergi.





Jaka Tarub dan Nawang wulan

Ulasan dari cerita Rivan Pramono sangatlah menarik hampir semua terulas tanpa adanya sedikit pun yang terlewatkan, dari suasana desa sampai keadaan jaka tarub pada zaman dahulu semuanya lengkap. Hampir tak ada bosannya jika melihat sebuah drama jika di bawakan dengan sesuatu yang baru, dengan dikemas sedikit komedi di dalamnya tentu penonton tidak akan bosan dengan drama tersebut walau sudah banyak di tayangkan di TV. Apalagi kalau seorang pemain drama itu cantik dan tampan dan bisa dengan baik mambawakan perannya dengan bersungguh-sungguh membuat penonton betah berlama-lama melihat sebuah drama tersebut. Dari cerita jaka tarub menggunakan alur maju mundur, karena awal drama terdapat seorang laki-laki yang tidur di depan rumah ketika bulan purnama tiba,laki-laki itu bernama jaka tarub. Jaka pun terbangun dengan memanggil nama anaknya tersebut, anak itu bernama nawangsih. Nawangsih yang mendengar suara bapaknya langsung berlari keluar untuk menemui bapaknya tersebut dan bertanya “bapak kenapa? Setiap bulan purnama selalu tidur di luar rumah”, “bapak tidak apa-apa nak”.
            Di ulasan yang di ceritakan rivan tidak menceritakan kedua tokoh yang menjadi bahan komedi untuk pementasan drama “Jaka Tarub” yang membuat seolah-olah cerita itu alami. Ketika jaka tarub bertemu nawang wulan dan menikah kan tidak mungkin mereka langsung hamil, maka dari itu kedua tokoh tersebut menjadi sangat penting agar cerita seolah-olah benar ada penduduk lain selain jaka tarub dan nawang wulan. Setelah berjalan beberapa bulan lahirlah seorang anak dari jaka tarub dan nawang wulan kemudian di beri nama nawangsih yang begitu cantik mirip dengan ibunya tersebut. Saat itu jaka tarub mulai penasaran ketika lumbung padi di rumahnya tidak pernah habis, jaka tetap penasaran dan ingin membuka atau melihat sedikit apa yang ada dalam wadah penanak nasi itu.
 Ketika itu nawang wulan akan pergi ke sungai nawangsih pun di titipkan pada jaka tarub, jaka tarub pun masuk ke dalam rumah dan membuka penanak nasi, jaka pun terkejut ketika melihat apa yang di masak nawang wulan yaitu hanya lah setangkai padi. Ketika sampai rumah jaka pun bertanya kepada nawang wulan kenapa yang dimasak hanya lah setangkai padi, nawang pun menjawab kakang lupa kalau aku ini seorang bidadari yang bisa membuat setangkai padi menjadi nasi yang cukup untuk kita makan, maka dari itu lumbung padi kita tidak pernah habis kakang. Setalah nawang wulan marah, gdia pun masuk ke dalam rumah dan mengambil selendang yang membuatnya bisa kembali ke kayangan. Akhirnya nawang wulan pun kembali ke negeri asalnya yaitu negeri kayangan. Jaka dengan berbagai cara membujuk nawang wulan agar tidak kembali ke negeri asalnya pun tidak berhasil. Namun nawang wulan akan tetap memenuhi kewajibannya sebagai ibu dari nawang sih yaitu untuk bertemu dia dengan syarat ketiks bulan purnama bawalah dia ke air terjun itu dengan syarat  jangan sampe ada orang yang tau dan melihatnya.
Akhirnya nawang wulan pergi dari bumi dan kembali ke kayangan, jaka tarub hanya bisa menangisi nawang wulan yang pergi, jaka begitu menyesal dengan membuka penanasak nasi yang akhirnya nawang wulan pergi.





Minggu, 18 Desember 2016

dariku untuk ...
Malam juga wahai kau seorang penyair dari kendal.
            Hari ku yang pernah terlewat tetap secerah matahari ketika siang hari yang menyinari bumi ini, hari ini terasa agak berat ternyata keadaan logistik untuk akhir bulan mulai menipis dan ini menjadikan hari ku berasa mendung dan untuk hari-hari ku ke depannya semoga secerah mentari pagi yang memancarkan sinarnya untuk memberikan kebaikan.
            Wahai kau penyair dari kendal. Semoga menikmati kehidupan beberapa hari di kota orang. Selama 18-20 oktober 2016 kau mendapatkan ilmu baru,pengetahuan baru,teman baru dan pengalaman yang tidak akan kau lupakan untuk perjalanan hidupmu yang kelak akan kau ceritakan kepada istri dan juga anak cucumu, pasti ! istri dan anak cucumu merasa bangga mempunyai seorang suami,ayah, kakek, sepertimu seorang penyair dari kendal, seorang sastrawan muda dari kendal yang malang melintang di dunia sastra dan bahasa, semoga hasilnya bisa di bagikan kepada kami seorang mahasiswa yang berbahagia atau pura-pura berbahagia, agar kami bisa meniru jejakmu untuk membuat karya yang begitu bagus dan banyak di sukai banyak orang. Berangkatlah dengan rasa bahagia karena tidak semua orang bisa menjadi orang terpilih untuk mewakili Jawa Tengah untuk mengahadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta. Semoga kau di perjalan ketika menuju jakarta tetap berkarya entah menciptakan sebuah puisi atau apakah yang bisa untuk kau simpan sebagai saksi bisu dari perjalanan menuju istana Badan Bahasa.
            Penyairku yang di banggakan. Semoga kau memahami isi dari surat ini dan semoga engkau tidak ingin untuk minum obat antimo agar tidak mual.
Kau penyair dari kendal yang di banggakan istri dan orang-orang tersayangmu. Terima kasih telah membuat kami berfikir kembali untuk merangkai kata yang indah seperti apa yang engkau tujukan kepada kami. Kami mahasiswa yang menikmati dunia perkuliahan bukan tidak suka membaca tapi ini menjadi sebuah hobi, terkadang bagi kami membaca hanya untuk mengisi waktu luang. Tapi kami sadar dan amat tersadar bahwa dunia perkuliahan tidak lagi sama dengan dunia SMA yang materi dengan jelas di berikan oleh guru kami. Kami jelas berusaha untuk membaca sebagai kebutuhan kami sehari-hari, karena jika tidak membaca apapun kami hanya menjadi seperti kerbau yang mudah untuk di ajak kesana kemari tanpa adanya sebuah tujuan, karena itu kami tetap berusaha membaca apapun yang berdampak positif untuk hidup kami, agar kami tidak tertinggal oleh zaman yang begitu keras dan dunia yang begitu fana. Bukannya kami tidak mau berterus terang wahai penyair dari kendal tetapi terkadang kami bingung sendiri untuk merangkai kata untuk di ucapkan lewat alat tutur kami, kami para mahasiswa yang suka makan pagi di gabung dengan makan siang tetap mempunyai gagasan tersendiri, namun terkdang itu kendala kami bingung sendiri untuk mengutarakannya, membaratkannya atau apalah itu namanya. Buktinya kami mempunyai  gagasan tersendiri ketika kami memberi tanggapan tentang koran,esai,atau pun drama yang baru di tampilkan kemarin, kami tetap berbeda cerita berbeda konsep karena kami mempunya akal dan fikiran masing-masing.
            Tak apa kau menyuruh kami untuk membeli buku,koran,majalah atau apalah itu entah namanya. Suatu saat pasti buku itu,koran,majalah dan semua isi yang ada di dalamya akan bermanfaat suatu saat, akan teringat pernah membaca buku,koran,majalah ketika orang lain bertanya. Semua tak ada yang sia-sia di dunia ini,semua akan membuahkan hasil tak usah kau minta maaf, kami yang seharusnya minta maaf dan mengucapkan rasa terima kasih kami padamu yang telah memberikan semua apa yang kau punya kepada kami tinggal kami yang harus berusaha mengembangkannya. Kami ucapakan terima kasih dari kami mahasiswa pencinta mie instan. Kami sadar jika bukan karena engkau kami tidak tau apa itu penulisan media massa, apa itu isi dalam koran,buku dan majalah. Yang penting semua itu tidak akan sia-sia untuk kami. Awalnya membaca surat ini merasa ingin minum obat sakit kepala tetapi di paragraf ke 6 kami mulai berpikir “iya masa depan tidak dengan mudah di raih tanpa adanya sebuah perjuangan dan kerja keras dari kami sendiri dan engkau hanya menuntun kami”.
            Dosenku yang paling baik sampai-sampai kau tak sampai hati untuk tinggalkan kami. Saat ini kami masih memahami potensi dari kami, memahami apa yang ada dalam diri kami, kami harus menggali potensi itu kalau tidak begitu hanya lah sia-sia hidup selama ini jika tidak menemukan sebuah potensi yang terpendam dalam diri ini. Semua akan ada waktunya ketika potensi itu muncul ke permukaan, setiap insan di dunia ini pasti mempunyai sebuah potensi yang sangat luar biasa, contoh engkau penyair dari kendal. Engkau pandai membuat syair,membuat sebuah esai yang mudah di terbitkan dalam media massa yang membuat orang terkagum dengan karya esaimu. Niatan kami untuk bertahan hidup adalah untuk membanggakan orang tua kami, berguna bagi bangsa dan negara dan berguna bagi orang lain, motivasi kami untuk kuliah berpendidikan itu penting untuk mencapai sebuah masa depan yang lebih cerah, walau ada orang yang tidak kuliah itu sukses tapi sukses itu semuanya butuh kerja keras dan perjuangan yang begitu berat, tidak ada masa depan yang datang secara instan itu mustahil di dunia ini. Jika ada yang berbicara dalam kelas sendiri itu datangnya dari individu tersebut mereka yang butuh, engkau hanya menyampaikan apa yang engkau tahu dan yang engkau punyai semua kembali kepada individu tersebut bagaimana dia menggunakan apa yang engkau berikan, kami berharap semua yang engkau berikan sangat berguna di masa yang akan datang kami bangga mempunyai guru seperti engkau.
            Kami dari mahasiswa yang suka makanya di jamak antara pagi dan siang menjadi satu. Entah buku apa saja yang sudah dibaca,koran apa yang dibaca,majalah apa yang di simak. Mungkin dari kami ada yang membaca jika ada sebuah buku yang menarik saja ataupun sebuah novel yang cukup menarik pembacanya atau komik yang begitu disukainya. Seperti menyukai sebuah komik dari kartun anime naruto pasti akan membeli dari seri ke seri. Koran, pasti membaca jika ada yang penting dan jika ada yang di cari itu di baca dari halaman ke halaman. Entah apa yang sebenarnya membuat kami agak malas untuk membaca sebuah koran padahal sebenarnya di dalam sebuah koran terdapat sebuah pengetahuan baru atau pun sebuah berita yang begitu penting, kan membaca adalah gerbang dunia dari membaca kita dapat mengetahui apa yang terjadi di luar sana tanpa harus menuju tempat tersebut. Benar apa kata kau tugas itu di kerjakan bukan cuman di pikirkan,bukan cuman mengeluh saja jika begitu percuma saja, manfaat dari tugas sebenarnya mengaplikasikan apa yang di pelajari seperti tugas membuat esai itu mengeluarkan kosa kata dari yang kita punya selama ini, membuat kita berpikir kosa kata yang lebih luas. Dan kami akan menggali potensi itu. Percaya potensi luar biasa itu ada dalam diri kita masing-masing.

            Dosenku yang sedang berbahagia. Baiklah, mari kita lakukan sebuah perbuatan yang tidak merugikan orang lain, mari kita ciptakan sebuah tindakan yang baik dari  hati agar bermanfaat untuk orang lain. Percayalah semua pasti bermanfaat dan berguna dan tak sia-sia. Sampai jumpa. Semoga kita bertemu dalam kuliah atau pun pertemuan selanjutnya. Dariku untukmu atas nama segala rindu. Salam. (MPAK)