Selasa, 20 Desember 2016

Jaka Tarub dan Nawang wulan

Ulasan dari cerita Rivan Pramono sangatlah menarik hampir semua terulas tanpa adanya sedikit pun yang terlewatkan, dari suasana desa sampai keadaan jaka tarub pada zaman dahulu semuanya lengkap. Hampir tak ada bosannya jika melihat sebuah drama jika di bawakan dengan sesuatu yang baru, dengan dikemas sedikit komedi di dalamnya tentu penonton tidak akan bosan dengan drama tersebut walau sudah banyak di tayangkan di TV. Apalagi kalau seorang pemain drama itu cantik dan tampan dan bisa dengan baik mambawakan perannya dengan bersungguh-sungguh membuat penonton betah berlama-lama melihat sebuah drama tersebut. Dari cerita jaka tarub menggunakan alur maju mundur, karena awal drama terdapat seorang laki-laki yang tidur di depan rumah ketika bulan purnama tiba,laki-laki itu bernama jaka tarub. Jaka pun terbangun dengan memanggil nama anaknya tersebut, anak itu bernama nawangsih. Nawangsih yang mendengar suara bapaknya langsung berlari keluar untuk menemui bapaknya tersebut dan bertanya “bapak kenapa? Setiap bulan purnama selalu tidur di luar rumah”, “bapak tidak apa-apa nak”.
            Di ulasan yang di ceritakan rivan tidak menceritakan kedua tokoh yang menjadi bahan komedi untuk pementasan drama “Jaka Tarub” yang membuat seolah-olah cerita itu alami. Ketika jaka tarub bertemu nawang wulan dan menikah kan tidak mungkin mereka langsung hamil, maka dari itu kedua tokoh tersebut menjadi sangat penting agar cerita seolah-olah benar ada penduduk lain selain jaka tarub dan nawang wulan. Setelah berjalan beberapa bulan lahirlah seorang anak dari jaka tarub dan nawang wulan kemudian di beri nama nawangsih yang begitu cantik mirip dengan ibunya tersebut. Saat itu jaka tarub mulai penasaran ketika lumbung padi di rumahnya tidak pernah habis, jaka tetap penasaran dan ingin membuka atau melihat sedikit apa yang ada dalam wadah penanak nasi itu.
 Ketika itu nawang wulan akan pergi ke sungai nawangsih pun di titipkan pada jaka tarub, jaka tarub pun masuk ke dalam rumah dan membuka penanak nasi, jaka pun terkejut ketika melihat apa yang di masak nawang wulan yaitu hanya lah setangkai padi. Ketika sampai rumah jaka pun bertanya kepada nawang wulan kenapa yang dimasak hanya lah setangkai padi, nawang pun menjawab kakang lupa kalau aku ini seorang bidadari yang bisa membuat setangkai padi menjadi nasi yang cukup untuk kita makan, maka dari itu lumbung padi kita tidak pernah habis kakang. Setalah nawang wulan marah, gdia pun masuk ke dalam rumah dan mengambil selendang yang membuatnya bisa kembali ke kayangan. Akhirnya nawang wulan pun kembali ke negeri asalnya yaitu negeri kayangan. Jaka dengan berbagai cara membujuk nawang wulan agar tidak kembali ke negeri asalnya pun tidak berhasil. Namun nawang wulan akan tetap memenuhi kewajibannya sebagai ibu dari nawang sih yaitu untuk bertemu dia dengan syarat ketiks bulan purnama bawalah dia ke air terjun itu dengan syarat  jangan sampe ada orang yang tau dan melihatnya.
Akhirnya nawang wulan pergi dari bumi dan kembali ke kayangan, jaka tarub hanya bisa menangisi nawang wulan yang pergi, jaka begitu menyesal dengan membuka penanasak nasi yang akhirnya nawang wulan pergi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar