Selasa, 20 Desember 2016


UPGRIS Bersastra

Semarang. Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS). Setiap tahun rutin memperingati bulan bahasa yang jatuh pada bulan oktober. Salah satu dari agenda bulan bahasa adalah UPGRIS Bersastra yang bertemakan 3 buku,3 pembaca,3 kritikus dan 1 pengarang. Pengarang tersebut adalah Trianto Triwikromo seorang pengarang yang sudah berpengalaman dalam bidang penulisan sebuah novel dan puisi. Pembukaan di buka oleh Biscuit Time, pemusik yang menyukai sastra dari Trianto Triwikromo, kemudian sambutan bapak rektor UPGRIS untuk membuka acara UPGRIS Bersasta yang bertemakan 3 buku 3 pembaca 3 kritikus dan 1 pengarang, setalah sambutan kemudian di isi oleh teatrikal,pembacaan puisi yang di eja oleh bebrapa mahasiswa,dan tari balet, begitu tari ba;et tampil beberapa mahasiswa sangat histeris dan menikmati hiburan tari balet itu karena di bawakan dengan begitu romantis.
Upgris bersastra di bawakan oleh dR. Harjito sebagai host dalam acara tersebut, 3 pembaca 3 kritikus itu adalah Nur Hidayat, Prasetyo Utomo dan Widyan Eko, ketiganya adalah pecinta buku dari Trianto Triwikromo dan suka mengkritik dan merensensi buku-buku yang bagus. Sebelum di mulainya sebuah acara host yang membawakan acara tersebut ingin mendengar bapak rektor membaca salah satu puisi dari karya Trianto Triwikromo, bapak rektor membacakan sebuah puisi yang berjudul “takziah”, yang tidak di guga oleh mahasiswa adalah ternyata bapak rektor juga mempunyai bakat bernyanyi sambil bermain gitar lagu yang di bawakannya adalah lagu yang pernah dia bawakan ketika masih muda untuk pementasan sebuah drama yang di adakan oleh desanya. Di lanjutkan pembacaan puisi dan nembang jawa oleh Wakil Rektor 1 yaitu ibu dr Sri Suciati yang duet bersama mahasiswinya untuk nembang jawa di hadapan bapak rektor UPGRIS dan Trianto Triwikromo, puisi yang di bacakan berjudul “Selir Musim Panas” begitu indah dan bagusnya yang di bawakan oleh wakil rektor 1 membuat kami para penonton merasa terpesona dengan penampilan itu.
            Kemudian sampai pada acara kritikan dari 3 kritkusan tersebut. Yang pertama mengkritik adalah Nur Hidayat yang mengkritik buku yang berjudul “Sesat Pikir Para Binatang” itu bahasanya sulit di pahami dari pembaca yang membuat pembaca pusing 7 keliling untuk memahami 1 buku karangan Trianto Triwikromo. Yang kedua adalah Prasetyo utomo menurutnya novel Trianto Triwikromo suda memiliki semuanya dari alur,latar dan setting sudah bagus sekali tetapi dalam membaca novel Trianto Triwikromo harus menggunakan metode tertentu agar cepat mudah di pahami oleh si pembaca tersebut. Yang terakhir adalah Widyan Eko mulai mengkritik dengan menggunakan prolog bagaimana dia mulai mengenal Trianto Triwikromo dan bagaimana dia mulai menyukai karya dari Trianto Triwikromo. Puisi dari trianto triwikromo pun sangat sulit di pahami oleh widyan eko dan para pembaca lainnya, menurut widyan eko untuk memahami 1 karya puisi dari trianto triwikromo harus minimal membaca 4 buku karya trianto triwikromo. Puisi trianto triwikromo sangat bermakna maka dari itu sulit untuk di pahami.
            Para kritikus ini pun sangat bangga bisa mengenal Trianto Triwikromo dan bisa menikmati karyanya. Ketiga kritikus pun menyimpulkan bahwa trianto triwikromo sangat lah sebentar untuk membuat karya yang bisa sebagus ini, karya ini pun membutuhkan sebuah perjuangan yang sangat luar biasa. Trianto Triwikromo sangat lah menginspirasi generasi muda untuk terus membuat karya.
            Mendekati akhir acara trianto triwikromo pun naik panggung untuk menceritakan sedikit dari pengalamannya bagamna dia bisa sesukses ini. Trianto Triwikiromo membutuhkan waktu selama 30 tahun berkarya tanpa terhenti mulai dari menulis dalam dalam buku sendiri,membuat puisi sampai membuat esai yang di muat dalam beberapa koran. Semua yang di lakukan trianto triwikromo bukan tanpa perjuangan dan kerja keras dia sangat bersungguh-sungguh untuk membuat sebuah karya yang sangatlah bagus, membuat sebuah novel yang sampai di  cetak dan di jual belikan di toko buku seperti gramedia dan lain-lain. Sebuah karya pasti ada yang kembali dan juga ada yang hilang, bagaimana kita menjaga sebuah karya tersebut agar tetep ada walau ada karya-karya yang lebih bagus berdatangan,hargailah sebuah karya yang pernah ada sebagaimana engkau menghargai karya yang engkau ciptakan sendiri. Kalimat penutup dari Trianto Triwikromo “Selalu ada yang hilang, selalu ada yang tak kembali” salah satu kutipan dari bukunya.
            Acara kali ini sangatlah sukses karena banyak mahasiswa dan dsoen yang ikut hadir dalam acara tersebut,banyak juga pelajaran yang dapat kita ambil dari UPGRIS Bersastra 3 buku,3 pembaca,3 kritikus dan 1 pengarang. Puncak dari bulan bahasa adalah nanti pada tanggal 27 oktober yaitu pawai budaya yang bertempat pada balairung Universitas PGRI Semarang, acara tersebut di meriahkan oleh seluruh mahasiswa UPGRIS, acara tersebut di isi dengan lomba pentas tari kreasi dan tari bersama dengan dosen dan mahasiswa. Yang unik dari pawai budaya tahun ini adalah tidak boleh seragam sekelas, yang berarti minimal satu kelas akan ada 2 pakaian adat yang berbeda, karena untuk tahun ini ketika memakai pakaian batik semua kurang meriah sehingga taun ini di buat lebih berwarna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar