Jaka
Tarub dan Nawang wulan
Ulasan
dari cerita Rivan Pramono sangatlah menarik hampir semua terulas tanpa adanya
sedikit pun yang terlewatkan, dari suasana desa sampai keadaan jaka tarub pada
zaman dahulu semuanya lengkap. Hampir tak ada bosannya jika melihat sebuah
drama jika di bawakan dengan sesuatu yang baru, dengan dikemas sedikit komedi
di dalamnya tentu penonton tidak akan bosan dengan drama tersebut walau sudah
banyak di tayangkan di TV. Apalagi kalau seorang pemain drama itu cantik dan
tampan dan bisa dengan baik mambawakan perannya dengan bersungguh-sungguh
membuat penonton betah berlama-lama melihat sebuah drama tersebut. Dari cerita
jaka tarub menggunakan alur maju mundur, karena awal drama terdapat seorang
laki-laki yang tidur di depan rumah ketika bulan purnama tiba,laki-laki itu bernama
jaka tarub. Jaka pun terbangun dengan memanggil nama anaknya tersebut, anak itu
bernama nawangsih. Nawangsih yang mendengar suara bapaknya langsung berlari
keluar untuk menemui bapaknya tersebut dan bertanya “bapak kenapa? Setiap bulan
purnama selalu tidur di luar rumah”, “bapak tidak apa-apa nak”.
Di ulasan yang di ceritakan rivan tidak menceritakan
kedua tokoh yang menjadi bahan komedi untuk pementasan drama “Jaka Tarub” yang
membuat seolah-olah cerita itu alami. Ketika jaka tarub bertemu nawang wulan
dan menikah kan tidak mungkin mereka langsung hamil, maka dari itu kedua tokoh
tersebut menjadi sangat penting agar cerita seolah-olah benar ada penduduk lain
selain jaka tarub dan nawang wulan. Setelah berjalan beberapa bulan lahirlah
seorang anak dari jaka tarub dan nawang wulan kemudian di beri nama nawangsih
yang begitu cantik mirip dengan ibunya tersebut. Saat itu jaka tarub mulai
penasaran ketika lumbung padi di rumahnya tidak pernah habis, jaka tetap
penasaran dan ingin membuka atau melihat sedikit apa yang ada dalam wadah
penanak nasi itu.
Ketika itu nawang wulan akan pergi ke sungai
nawangsih pun di titipkan pada jaka tarub, jaka tarub pun masuk ke dalam rumah
dan membuka penanak nasi, jaka pun terkejut ketika melihat apa yang di masak
nawang wulan yaitu hanya lah setangkai padi. Ketika sampai rumah jaka pun
bertanya kepada nawang wulan kenapa yang dimasak hanya lah setangkai padi,
nawang pun menjawab kakang lupa kalau aku ini seorang bidadari yang bisa
membuat setangkai padi menjadi nasi yang cukup untuk kita makan, maka dari itu
lumbung padi kita tidak pernah habis kakang. Setalah nawang wulan marah, gdia
pun masuk ke dalam rumah dan mengambil selendang yang membuatnya bisa kembali
ke kayangan. Akhirnya nawang wulan pun kembali ke negeri asalnya yaitu negeri
kayangan. Jaka dengan berbagai cara membujuk nawang wulan agar tidak kembali ke
negeri asalnya pun tidak berhasil. Namun nawang wulan akan tetap memenuhi
kewajibannya sebagai ibu dari nawang sih yaitu untuk bertemu dia dengan syarat
ketiks bulan purnama bawalah dia ke air terjun itu dengan syarat jangan sampe ada orang yang tau dan
melihatnya.
Akhirnya
nawang wulan pergi dari bumi dan kembali ke kayangan, jaka tarub hanya bisa
menangisi nawang wulan yang pergi, jaka begitu menyesal dengan membuka
penanasak nasi yang akhirnya nawang wulan pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar