Jika kamu tidak mampu menyampaikannya secara sederhana maka cukup pahami untuk diri sendiri.
Selasa, 20 Desember 2016
Menanggapi
tulisan dari Prof Dr Ir Saratri Wilonoyudho, MSI. Seharus Semarang melakukan
survey tempat yang akan di jadikan sebagai lahan pembangunan agar tidak terjadi
kesalahan dalam pembangunannya. Seperti yang di ketahui saat ini Semarang
banyak bangunan pencakar langit, dan terus membagun bangunan tesebut tanpa
menghiraukan dampak dari pembangunan tersebut.
Jika seperti ini terus menerus semarang akan menjadi
jakarta kedua yang setiap musim hujan tiba menjadi langganan banjir. Akhirnya
masyarakat pun kena imbas banjir tersebut, masyarakat pun susah beraktivitas
karena banjir tersebut perekonomian mereka pun pasti terganggu. Sebaiknya jika
ingin membangun bangunan perhatikan juga daerah resapan tersebut agar air hujan
tidak meluap kejalanan dan tidak menyebabkan banjir di berbagai daerah.
Sediakan
juga ruangan hijau kota agar dapat meresap uap panas yang di hasilkan dari
kendaraan bermotor, ruang hijau tersebut juga banyak manfaatnya jika di maksimalkan
secara se utuhnya. Marilah kita selamatkan Semarang dari banjir di setiap
tahunnya, dengan melakukan jangan membuang sampah sembarangan,beri ruang untung
resapan air hujan,membangun tempat juga perhatikan resapan airnya.
UPGRIS
Bersastra
Semarang.
Kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
(FPBS). Setiap tahun rutin memperingati bulan bahasa yang jatuh pada bulan
oktober. Salah satu dari agenda bulan bahasa adalah UPGRIS Bersastra yang
bertemakan 3 buku,3 pembaca,3 kritikus dan 1 pengarang. Pengarang tersebut
adalah Trianto Triwikromo seorang pengarang yang sudah berpengalaman dalam
bidang penulisan sebuah novel dan puisi. Pembukaan di buka oleh Biscuit Time,
pemusik yang menyukai sastra dari Trianto Triwikromo, kemudian sambutan bapak
rektor UPGRIS untuk membuka acara UPGRIS Bersasta yang bertemakan 3 buku 3
pembaca 3 kritikus dan 1 pengarang, setalah sambutan kemudian di isi oleh teatrikal,pembacaan
puisi yang di eja oleh bebrapa mahasiswa,dan tari balet, begitu tari ba;et
tampil beberapa mahasiswa sangat histeris dan menikmati hiburan tari balet itu
karena di bawakan dengan begitu romantis.
Upgris
bersastra di bawakan oleh dR. Harjito sebagai host dalam acara tersebut, 3
pembaca 3 kritikus itu adalah Nur Hidayat, Prasetyo Utomo dan Widyan Eko,
ketiganya adalah pecinta buku dari Trianto Triwikromo dan suka mengkritik dan
merensensi buku-buku yang bagus. Sebelum di mulainya sebuah acara host yang
membawakan acara tersebut ingin mendengar bapak rektor membaca salah satu puisi
dari karya Trianto Triwikromo, bapak rektor membacakan sebuah puisi yang
berjudul “takziah”, yang tidak di guga oleh mahasiswa adalah ternyata bapak
rektor juga mempunyai bakat bernyanyi sambil bermain gitar lagu yang di
bawakannya adalah lagu yang pernah dia bawakan ketika masih muda untuk
pementasan sebuah drama yang di adakan oleh desanya. Di lanjutkan pembacaan
puisi dan nembang jawa oleh Wakil Rektor 1 yaitu ibu dr Sri Suciati yang duet
bersama mahasiswinya untuk nembang jawa di hadapan bapak rektor UPGRIS dan
Trianto Triwikromo, puisi yang di bacakan berjudul “Selir Musim Panas” begitu
indah dan bagusnya yang di bawakan oleh wakil rektor 1 membuat kami para penonton
merasa terpesona dengan penampilan itu.
Kemudian sampai pada acara kritikan dari 3 kritkusan
tersebut. Yang pertama mengkritik adalah Nur Hidayat yang mengkritik buku yang
berjudul “Sesat Pikir Para Binatang” itu bahasanya sulit di pahami dari pembaca
yang membuat pembaca pusing 7 keliling untuk memahami 1 buku karangan Trianto
Triwikromo. Yang kedua adalah Prasetyo utomo menurutnya novel Trianto
Triwikromo suda memiliki semuanya dari alur,latar dan setting sudah bagus
sekali tetapi dalam membaca novel Trianto Triwikromo harus menggunakan metode
tertentu agar cepat mudah di pahami oleh si pembaca tersebut. Yang terakhir
adalah Widyan Eko mulai mengkritik dengan menggunakan prolog bagaimana dia
mulai mengenal Trianto Triwikromo dan bagaimana dia mulai menyukai karya dari
Trianto Triwikromo. Puisi dari trianto triwikromo pun sangat sulit di pahami
oleh widyan eko dan para pembaca lainnya, menurut widyan eko untuk memahami 1
karya puisi dari trianto triwikromo harus minimal membaca 4 buku karya trianto
triwikromo. Puisi trianto triwikromo sangat bermakna maka dari itu sulit untuk
di pahami.
Para kritikus ini pun sangat bangga bisa mengenal Trianto
Triwikromo dan bisa menikmati karyanya. Ketiga kritikus pun menyimpulkan bahwa
trianto triwikromo sangat lah sebentar untuk membuat karya yang bisa sebagus
ini, karya ini pun membutuhkan sebuah perjuangan yang sangat luar biasa.
Trianto Triwikromo sangat lah menginspirasi generasi muda untuk terus membuat
karya.
Mendekati akhir acara trianto triwikromo pun naik panggung
untuk menceritakan sedikit dari pengalamannya bagamna dia bisa sesukses ini.
Trianto Triwikiromo membutuhkan waktu selama 30 tahun berkarya tanpa terhenti
mulai dari menulis dalam dalam buku sendiri,membuat puisi sampai membuat esai
yang di muat dalam beberapa koran. Semua yang di lakukan trianto triwikromo
bukan tanpa perjuangan dan kerja keras dia sangat bersungguh-sungguh untuk
membuat sebuah karya yang sangatlah bagus, membuat sebuah novel yang sampai
di cetak dan di jual belikan di toko
buku seperti gramedia dan lain-lain. Sebuah karya pasti ada yang kembali dan
juga ada yang hilang, bagaimana kita menjaga sebuah karya tersebut agar tetep
ada walau ada karya-karya yang lebih bagus berdatangan,hargailah sebuah karya
yang pernah ada sebagaimana engkau menghargai karya yang engkau ciptakan
sendiri. Kalimat penutup dari Trianto Triwikromo “Selalu ada yang hilang, selalu ada yang tak kembali” salah satu kutipan
dari bukunya.
Acara kali ini sangatlah sukses
karena banyak mahasiswa dan dsoen yang ikut hadir dalam acara tersebut,banyak
juga pelajaran yang dapat kita ambil dari UPGRIS Bersastra 3 buku,3 pembaca,3
kritikus dan 1 pengarang. Puncak dari bulan bahasa adalah nanti pada tanggal 27
oktober yaitu pawai budaya yang bertempat pada balairung Universitas PGRI
Semarang, acara tersebut di meriahkan oleh seluruh mahasiswa UPGRIS, acara
tersebut di isi dengan lomba pentas tari kreasi dan tari bersama dengan dosen
dan mahasiswa. Yang unik dari pawai budaya tahun ini adalah tidak boleh seragam
sekelas, yang berarti minimal satu kelas akan ada 2 pakaian adat yang berbeda,
karena untuk tahun ini ketika memakai pakaian batik semua kurang meriah
sehingga taun ini di buat lebih berwarna
Jaka
Tarub dan Nawang wulan
Ulasan
dari cerita Rivan Pramono sangatlah menarik hampir semua terulas tanpa adanya
sedikit pun yang terlewatkan, dari suasana desa sampai keadaan jaka tarub pada
zaman dahulu semuanya lengkap. Hampir tak ada bosannya jika melihat sebuah
drama jika di bawakan dengan sesuatu yang baru, dengan dikemas sedikit komedi
di dalamnya tentu penonton tidak akan bosan dengan drama tersebut walau sudah
banyak di tayangkan di TV. Apalagi kalau seorang pemain drama itu cantik dan
tampan dan bisa dengan baik mambawakan perannya dengan bersungguh-sungguh
membuat penonton betah berlama-lama melihat sebuah drama tersebut. Dari cerita
jaka tarub menggunakan alur maju mundur, karena awal drama terdapat seorang
laki-laki yang tidur di depan rumah ketika bulan purnama tiba,laki-laki itu bernama
jaka tarub. Jaka pun terbangun dengan memanggil nama anaknya tersebut, anak itu
bernama nawangsih. Nawangsih yang mendengar suara bapaknya langsung berlari
keluar untuk menemui bapaknya tersebut dan bertanya “bapak kenapa? Setiap bulan
purnama selalu tidur di luar rumah”, “bapak tidak apa-apa nak”.
Di ulasan yang di ceritakan rivan tidak menceritakan
kedua tokoh yang menjadi bahan komedi untuk pementasan drama “Jaka Tarub” yang
membuat seolah-olah cerita itu alami. Ketika jaka tarub bertemu nawang wulan
dan menikah kan tidak mungkin mereka langsung hamil, maka dari itu kedua tokoh
tersebut menjadi sangat penting agar cerita seolah-olah benar ada penduduk lain
selain jaka tarub dan nawang wulan. Setelah berjalan beberapa bulan lahirlah
seorang anak dari jaka tarub dan nawang wulan kemudian di beri nama nawangsih
yang begitu cantik mirip dengan ibunya tersebut. Saat itu jaka tarub mulai
penasaran ketika lumbung padi di rumahnya tidak pernah habis, jaka tetap
penasaran dan ingin membuka atau melihat sedikit apa yang ada dalam wadah
penanak nasi itu.
Ketika itu nawang wulan akan pergi ke sungai
nawangsih pun di titipkan pada jaka tarub, jaka tarub pun masuk ke dalam rumah
dan membuka penanak nasi, jaka pun terkejut ketika melihat apa yang di masak
nawang wulan yaitu hanya lah setangkai padi. Ketika sampai rumah jaka pun
bertanya kepada nawang wulan kenapa yang dimasak hanya lah setangkai padi,
nawang pun menjawab kakang lupa kalau aku ini seorang bidadari yang bisa
membuat setangkai padi menjadi nasi yang cukup untuk kita makan, maka dari itu
lumbung padi kita tidak pernah habis kakang. Setalah nawang wulan marah, gdia
pun masuk ke dalam rumah dan mengambil selendang yang membuatnya bisa kembali
ke kayangan. Akhirnya nawang wulan pun kembali ke negeri asalnya yaitu negeri
kayangan. Jaka dengan berbagai cara membujuk nawang wulan agar tidak kembali ke
negeri asalnya pun tidak berhasil. Namun nawang wulan akan tetap memenuhi
kewajibannya sebagai ibu dari nawang sih yaitu untuk bertemu dia dengan syarat
ketiks bulan purnama bawalah dia ke air terjun itu dengan syarat jangan sampe ada orang yang tau dan
melihatnya.
Akhirnya
nawang wulan pergi dari bumi dan kembali ke kayangan, jaka tarub hanya bisa
menangisi nawang wulan yang pergi, jaka begitu menyesal dengan membuka
penanasak nasi yang akhirnya nawang wulan pergi.
Jaka
Tarub dan Nawang wulan
Ulasan
dari cerita Rivan Pramono sangatlah menarik hampir semua terulas tanpa adanya
sedikit pun yang terlewatkan, dari suasana desa sampai keadaan jaka tarub pada
zaman dahulu semuanya lengkap. Hampir tak ada bosannya jika melihat sebuah
drama jika di bawakan dengan sesuatu yang baru, dengan dikemas sedikit komedi
di dalamnya tentu penonton tidak akan bosan dengan drama tersebut walau sudah
banyak di tayangkan di TV. Apalagi kalau seorang pemain drama itu cantik dan
tampan dan bisa dengan baik mambawakan perannya dengan bersungguh-sungguh
membuat penonton betah berlama-lama melihat sebuah drama tersebut. Dari cerita
jaka tarub menggunakan alur maju mundur, karena awal drama terdapat seorang
laki-laki yang tidur di depan rumah ketika bulan purnama tiba,laki-laki itu bernama
jaka tarub. Jaka pun terbangun dengan memanggil nama anaknya tersebut, anak itu
bernama nawangsih. Nawangsih yang mendengar suara bapaknya langsung berlari
keluar untuk menemui bapaknya tersebut dan bertanya “bapak kenapa? Setiap bulan
purnama selalu tidur di luar rumah”, “bapak tidak apa-apa nak”.
Di ulasan yang di ceritakan rivan tidak menceritakan
kedua tokoh yang menjadi bahan komedi untuk pementasan drama “Jaka Tarub” yang
membuat seolah-olah cerita itu alami. Ketika jaka tarub bertemu nawang wulan
dan menikah kan tidak mungkin mereka langsung hamil, maka dari itu kedua tokoh
tersebut menjadi sangat penting agar cerita seolah-olah benar ada penduduk lain
selain jaka tarub dan nawang wulan. Setelah berjalan beberapa bulan lahirlah
seorang anak dari jaka tarub dan nawang wulan kemudian di beri nama nawangsih
yang begitu cantik mirip dengan ibunya tersebut. Saat itu jaka tarub mulai
penasaran ketika lumbung padi di rumahnya tidak pernah habis, jaka tetap
penasaran dan ingin membuka atau melihat sedikit apa yang ada dalam wadah
penanak nasi itu.
Ketika itu nawang wulan akan pergi ke sungai
nawangsih pun di titipkan pada jaka tarub, jaka tarub pun masuk ke dalam rumah
dan membuka penanak nasi, jaka pun terkejut ketika melihat apa yang di masak
nawang wulan yaitu hanya lah setangkai padi. Ketika sampai rumah jaka pun
bertanya kepada nawang wulan kenapa yang dimasak hanya lah setangkai padi,
nawang pun menjawab kakang lupa kalau aku ini seorang bidadari yang bisa
membuat setangkai padi menjadi nasi yang cukup untuk kita makan, maka dari itu
lumbung padi kita tidak pernah habis kakang. Setalah nawang wulan marah, gdia
pun masuk ke dalam rumah dan mengambil selendang yang membuatnya bisa kembali
ke kayangan. Akhirnya nawang wulan pun kembali ke negeri asalnya yaitu negeri
kayangan. Jaka dengan berbagai cara membujuk nawang wulan agar tidak kembali ke
negeri asalnya pun tidak berhasil. Namun nawang wulan akan tetap memenuhi
kewajibannya sebagai ibu dari nawang sih yaitu untuk bertemu dia dengan syarat
ketiks bulan purnama bawalah dia ke air terjun itu dengan syarat jangan sampe ada orang yang tau dan
melihatnya.
Akhirnya
nawang wulan pergi dari bumi dan kembali ke kayangan, jaka tarub hanya bisa
menangisi nawang wulan yang pergi, jaka begitu menyesal dengan membuka
penanasak nasi yang akhirnya nawang wulan pergi.
Minggu, 18 Desember 2016
dariku untuk ...
Malam juga wahai
kau seorang penyair dari kendal.
Hari ku yang pernah terlewat tetap
secerah matahari ketika siang hari yang menyinari bumi ini, hari ini terasa
agak berat ternyata keadaan logistik untuk akhir bulan mulai menipis dan ini
menjadikan hari ku berasa mendung dan untuk hari-hari ku ke depannya semoga
secerah mentari pagi yang memancarkan sinarnya untuk memberikan kebaikan.
Wahai kau penyair dari kendal.
Semoga menikmati kehidupan beberapa hari di kota orang. Selama 18-20 oktober
2016 kau mendapatkan ilmu baru,pengetahuan baru,teman baru dan pengalaman yang
tidak akan kau lupakan untuk perjalanan hidupmu yang kelak akan kau ceritakan
kepada istri dan juga anak cucumu, pasti ! istri dan anak cucumu merasa bangga
mempunyai seorang suami,ayah, kakek, sepertimu seorang penyair dari kendal,
seorang sastrawan muda dari kendal yang malang melintang di dunia sastra dan
bahasa, semoga hasilnya bisa di bagikan kepada kami seorang mahasiswa yang
berbahagia atau pura-pura berbahagia, agar kami bisa meniru jejakmu untuk
membuat karya yang begitu bagus dan banyak di sukai banyak orang. Berangkatlah
dengan rasa bahagia karena tidak semua orang bisa menjadi orang terpilih untuk
mewakili Jawa Tengah untuk mengahadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa
Jakarta. Semoga kau di perjalan ketika menuju jakarta tetap berkarya entah
menciptakan sebuah puisi atau apakah yang bisa untuk kau simpan sebagai saksi
bisu dari perjalanan menuju istana Badan Bahasa.
Penyairku yang di banggakan. Semoga
kau memahami isi dari surat ini dan semoga engkau tidak ingin untuk minum obat
antimo agar tidak mual.
Kau
penyair dari kendal yang di banggakan istri dan orang-orang tersayangmu. Terima
kasih telah membuat kami berfikir kembali untuk merangkai kata yang indah
seperti apa yang engkau tujukan kepada kami. Kami mahasiswa yang menikmati
dunia perkuliahan bukan tidak suka membaca tapi ini menjadi sebuah hobi,
terkadang bagi kami membaca hanya untuk mengisi waktu luang. Tapi kami sadar
dan amat tersadar bahwa dunia perkuliahan tidak lagi sama dengan dunia SMA yang
materi dengan jelas di berikan oleh guru kami. Kami jelas berusaha untuk
membaca sebagai kebutuhan kami sehari-hari, karena jika tidak membaca apapun
kami hanya menjadi seperti kerbau yang mudah untuk di ajak kesana kemari tanpa
adanya sebuah tujuan, karena itu kami tetap berusaha membaca apapun yang
berdampak positif untuk hidup kami, agar kami tidak tertinggal oleh zaman yang
begitu keras dan dunia yang begitu fana. Bukannya kami tidak mau berterus
terang wahai penyair dari kendal tetapi terkadang kami bingung sendiri untuk
merangkai kata untuk di ucapkan lewat alat tutur kami, kami para mahasiswa yang
suka makan pagi di gabung dengan makan siang tetap mempunyai gagasan
tersendiri, namun terkdang itu kendala kami bingung sendiri untuk
mengutarakannya, membaratkannya atau apalah itu namanya. Buktinya kami
mempunyai gagasan tersendiri ketika kami
memberi tanggapan tentang koran,esai,atau pun drama yang baru di tampilkan
kemarin, kami tetap berbeda cerita berbeda konsep karena kami mempunya akal dan
fikiran masing-masing.
Tak apa kau menyuruh kami untuk
membeli buku,koran,majalah atau apalah itu entah namanya. Suatu saat pasti buku
itu,koran,majalah dan semua isi yang ada di dalamya akan bermanfaat suatu saat,
akan teringat pernah membaca buku,koran,majalah ketika orang lain bertanya.
Semua tak ada yang sia-sia di dunia ini,semua akan membuahkan hasil tak usah
kau minta maaf, kami yang seharusnya minta maaf dan mengucapkan rasa terima
kasih kami padamu yang telah memberikan semua apa yang kau punya kepada kami
tinggal kami yang harus berusaha mengembangkannya. Kami ucapakan terima kasih
dari kami mahasiswa pencinta mie instan. Kami sadar jika bukan karena engkau
kami tidak tau apa itu penulisan media massa, apa itu isi dalam koran,buku dan
majalah. Yang penting semua itu tidak akan sia-sia untuk kami. Awalnya membaca
surat ini merasa ingin minum obat sakit kepala tetapi di paragraf ke 6 kami
mulai berpikir “iya masa depan tidak dengan mudah di raih tanpa adanya sebuah
perjuangan dan kerja keras dari kami sendiri dan engkau hanya menuntun kami”.
Dosenku yang paling baik
sampai-sampai kau tak sampai hati untuk tinggalkan kami. Saat ini kami masih
memahami potensi dari kami, memahami apa yang ada dalam diri kami, kami harus
menggali potensi itu kalau tidak begitu hanya lah sia-sia hidup selama ini jika
tidak menemukan sebuah potensi yang terpendam dalam diri ini. Semua akan ada
waktunya ketika potensi itu muncul ke permukaan, setiap insan di dunia ini
pasti mempunyai sebuah potensi yang sangat luar biasa, contoh engkau penyair
dari kendal. Engkau pandai membuat syair,membuat sebuah esai yang mudah di
terbitkan dalam media massa yang membuat orang terkagum dengan karya esaimu. Niatan
kami untuk bertahan hidup adalah untuk membanggakan orang tua kami, berguna
bagi bangsa dan negara dan berguna bagi orang lain, motivasi kami untuk kuliah
berpendidikan itu penting untuk mencapai sebuah masa depan yang lebih cerah,
walau ada orang yang tidak kuliah itu sukses tapi sukses itu semuanya butuh kerja
keras dan perjuangan yang begitu berat, tidak ada masa depan yang datang secara
instan itu mustahil di dunia ini. Jika ada yang berbicara dalam kelas sendiri
itu datangnya dari individu tersebut mereka yang butuh, engkau hanya
menyampaikan apa yang engkau tahu dan yang engkau punyai semua kembali kepada
individu tersebut bagaimana dia menggunakan apa yang engkau berikan, kami
berharap semua yang engkau berikan sangat berguna di masa yang akan datang kami
bangga mempunyai guru seperti engkau.
Kami dari mahasiswa yang suka
makanya di jamak antara pagi dan siang menjadi satu. Entah buku apa saja yang
sudah dibaca,koran apa yang dibaca,majalah apa yang di simak. Mungkin dari kami
ada yang membaca jika ada sebuah buku yang menarik saja ataupun sebuah novel
yang cukup menarik pembacanya atau komik yang begitu disukainya. Seperti
menyukai sebuah komik dari kartun anime naruto pasti akan membeli dari seri ke
seri. Koran, pasti membaca jika ada yang penting dan jika ada yang di cari itu
di baca dari halaman ke halaman. Entah apa yang sebenarnya membuat kami agak
malas untuk membaca sebuah koran padahal sebenarnya di dalam sebuah koran
terdapat sebuah pengetahuan baru atau pun sebuah berita yang begitu penting,
kan membaca adalah gerbang dunia dari membaca kita dapat mengetahui apa yang
terjadi di luar sana tanpa harus menuju tempat tersebut. Benar apa kata kau
tugas itu di kerjakan bukan cuman di pikirkan,bukan cuman mengeluh saja jika
begitu percuma saja, manfaat dari tugas sebenarnya mengaplikasikan apa yang di
pelajari seperti tugas membuat esai itu mengeluarkan kosa kata dari yang kita
punya selama ini, membuat kita berpikir kosa kata yang lebih luas. Dan kami
akan menggali potensi itu. Percaya potensi luar biasa itu ada dalam diri kita
masing-masing.
Dosenku yang sedang berbahagia.
Baiklah, mari kita lakukan sebuah perbuatan yang tidak merugikan orang lain,
mari kita ciptakan sebuah tindakan yang baik dari hati agar bermanfaat untuk orang lain.
Percayalah semua pasti bermanfaat dan berguna dan tak sia-sia. Sampai jumpa.
Semoga kita bertemu dalam kuliah atau pun pertemuan selanjutnya. Dariku untukmu
atas nama segala rindu. Salam. (MPAK)
Tujuan dan Manfaat Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Diajarkannya mata kuliah Bahasa Indonesia di berbagai universitas dan perguruan tinggi memiliki tujuan umum yang meliputi:
1. Menumbuhkan kesetiaan terhadap bahasa Indonesia, yang nantinya diharapkan dapat mendorong mahasiswa memelihara bahasa Indonesia.
2. Menumbuhkan kebanggan terhadap bahasa Indonesia, yang nantinya diharapkan mampu mendorong mahasiswa mengutamakan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambing identitas bangsa.
3. Menumbuhkan dan memelihara kesadaran akan adanya norma bahasa Indonesia, yang nantinya diharapkan agar mahasiswa terdorong untuk menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku.
Selain tujuan umum, Mata kuliah Bahasa Indonesia ini juga memiliki tujuan khusus. Secara khusus mata kuliah ini bertujuan agar mahasiswa, calon sarjana, terampil dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik apakah itu secara lisan, ataupun tertulis, sebagai pengungkapan gagasan ilmiah.
Jika dilihat dari tujuan diberikannya mata kuliah ini sebenarnya cukup jelas apalagi di zaman seperti ini khususnya anak muda generasi penerus Bangsa saat ini kurang sadar akan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kurang merasa bangga dengan bahasa nasional, contohnya adanya bahasa gaul yang malah lebih sering digunakan sehari-hari sampai diterbitkan pula kamus bahasa gaul, apakah ini berarti bahasa Indonesia sudah dilupakan? Maka dari itu dengan adanya mata kuliah bahasa Indonesia ini setidaknya mempunyai harapan untuk para penerus bangsa agar tidak pernah melupakan bahasa Ibu mereka, yaitaaia;
2. Menjadi bahasa pemersatu dari berbagai bahasa dari tiap daerah di Indonesia;
3. Kebanggaan terhadap bangsa Indonesia;
4. Kesetiaan akan bahasa Indonesia;
5. Meningkatkan kesadaran akan adanya norma dalam berbahasa dan secara khusus bertujuan untuk terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.a
Langganan:
Komentar (Atom)