Teman Tiri.
Karya : M Primanggita Aji K
Samsudin seorang penjual jajanan
keliling desa, selesai berkeliling desa samsudin mampir pada warung langganan
untuk minum-minum es sambil istirahat dan berfikir bagaimana cara mendapatkan
uang lebih untuk di tabung agar bisa untuk biaya istrinya melahirkan. Setelah selesai istirahat samsudin pun
berjalan berjualan sambil berjalan pulang.
“assalamualaikum
bu.”
“walaikumsalam. Eh bapak udah pulang ? tumben
bapak pulang cepet ?”
“iya
bu. Dagangan juga sudah tinggal sedikit ini mending yang ini buat makan kita
saja. Oh iya bu bapak haus bu tolong ambilkan air minum bu.
“tunggu
sebentar pak ( keluar membawa segelas air putih).”
“terima
kasih bu. Iya sekarang gmna kandugannya bu ?.”
“baik
pak seperti biasanya pak, cuman akhir-akhir ini ibu pengin mangga muda pak, pengin yang asam-asam begitu.”
“hmm
ibu lagi ngidam nih, iya udah besok bapak cari ke pasar bu sekalian berjualan
di pasar. Lagian lama juga bapak sudah tidak mangkal di pasar bu.
“baiklah
pak. Oh iya pak ini misri bagaimana ya pak sudah 3 hari panasnya naik turun
terus pak ?”
“bagaimana bu ? apa lebih baik bawa ke
puskesmas saja bu biar lebih jelas lagi ?.”
“baiklah pak. Ini juga buat kebaikan misri.”
“besok bapak pulang agak cepat bu.”
“iya pak.”
“ayo bu ke puskesmas untuk periksa kan misri.”
“baik pak, sebentar ibu ganti baju dulu.”
Berangkat
dari rumah langsung bertemu dokter di puskesmas.
“anak
bapak terkena DBD dan harus di opnam di sini agar cepat sembuh, kira-kira 2
hari bapak untuk mendapatkan obat dan istirahat yang cukup.”
“baiklah dok. Terima kasih.” “sama-sama.
Semoga lekas sembuh pak.”
Akhirnya misri di rawat di
puskesmas. Dan esoknya bapak pulang untuk berdagang ke pasar lagi karena merasa
daganganya lebih cepat habis jika keliling desa. Ketika dagangannya habis
samsudin berjalan pulang, namun hari itu terlihat panas sekali akhirnya mampir
ke warung langganan untuk minum es dan sambil berfikir bagaimana dapet uang
lebih untuk membayar biaya opnam misri dan biaya sehari-hari untuk istrinya
yang sedang hamil. Ketika segelas es mualai habis teringat dengan yusuf yang
pernah meminjam uang lima juta rupiah untuk modal usaha buka wartegnya mungkin
aku bisa memintanya kembali.
“assalamuilaikum yusuf.”
“walaikumsalam.
Siapa ya ?”
“ini
aku samsudin temen lama mu.”
“oh
iya din ,apa kabar kamu sekarang ?”
“baik
suf, kamu sendiri ?”
“baik
din. Sekarang gimana kamu ?”
“masih
seperti biasa suf masih berdagang namun alhamdulilah daganganku laris mungkin karena sering kau unggah di dunia
maya tentang jajanan ku ini.”
“hehheeh bisa saja kau din. Ini kan sudah jadi
rezekinya kamu juga.”
“iya
amin suf semoga berkah suf. Oh iya din kita bisa bertemu engga ya soalnya hal
yang ingin aku ceritakan , ketemu di warung biasa saja, tempat kita biasa bertemu.”
“oh
iya din bisa bisa. Kapan emangnya ?”
“bagaimana kalau besok siang ?”
“oke din bisa.”
“yaudah suf . sampai jumpa besok.”
“Sesampainya
di tempat yusuf dan samsudin pun bercerita ke sana-kemari, hingga pada satu Samsudin
ingin bercerita serius.”
“yuf,
aku minta maaf sebelumnya..”
“iya,
ada apa din ? kaya engga biasanya saja.”
“begini
suf, anakku si misri lagi di opnam karena lagi terkena DBD dan istriku lagi hamil
juga butuh biaya besar suf.”
“terus aku bisa bantu apa din ?”
“pas waktu itu kan kamu pernah pinjam
uang suf ya lima juta untuk modal buka warteg”
“Kamu.
Bisa di kembalikan secepatnya suf ? uang itu untuk aku gunakan membayar opnam anakku
yang kena DBD di puskesmas dan buat biaya sehari-hari istriku.”
“hah hutang ? bukannya aku sudah bayar 3
bulan yang lalu din ? apa kamu tidak ingat itu ?”
“aku tidak merasa menerima uang dari
kamu suf.”
“ah aku sudah bayar hutang kepada kamu
din. Aku tidak mau bayar utang lagi , bisa-bisa aku rugi nanti din.”
“yaudah lah gini aja suf bagaimana aku
bekerja di tempat usaha kamu biar bisa aku tambah-tambah penghasilan ku , aku
kerjanya setelah berjualan jajanan aku suf”.
“yaudah din . yang penting aku nga mau
bayar utang lagi, karena aku rasa sudah bayar hutang ku padamu yang lima juta
itu din.”
Akhirnya
samsudin bekerja pada tempat ysusuf bekerja.