Selasa, 18 April 2017

cerpen

Teman Tiri.
Karya : M Primanggita Aji K
            Samsudin seorang penjual jajanan keliling desa, selesai berkeliling desa samsudin mampir pada warung langganan untuk minum-minum es sambil istirahat dan berfikir bagaimana cara mendapatkan uang lebih untuk di tabung agar bisa untuk biaya istrinya melahirkan.  Setelah selesai istirahat samsudin pun berjalan berjualan sambil berjalan pulang.
“assalamualaikum bu.”
 “walaikumsalam. Eh bapak udah pulang ? tumben bapak pulang cepet ?”
“iya bu. Dagangan juga sudah tinggal sedikit ini mending yang ini buat makan kita saja. Oh iya bu bapak haus bu tolong ambilkan air minum bu.
“tunggu sebentar pak ( keluar membawa segelas air putih).”
“terima kasih bu. Iya sekarang gmna kandugannya bu ?.”
“baik pak seperti biasanya pak, cuman akhir-akhir ini ibu pengin mangga  muda pak, pengin yang asam-asam begitu.”
“hmm ibu lagi ngidam nih, iya udah besok bapak cari ke pasar bu sekalian berjualan di pasar. Lagian lama juga bapak sudah tidak mangkal di pasar bu.
“baiklah pak. Oh iya pak ini misri bagaimana ya pak sudah 3 hari panasnya naik turun terus pak ?”
 “bagaimana bu ? apa lebih baik bawa ke puskesmas saja bu biar lebih jelas lagi ?.”
 “baiklah pak. Ini juga buat kebaikan misri.”
 “besok bapak pulang agak cepat bu.”
 “iya pak.”
 “ayo bu ke puskesmas untuk periksa kan misri.”
 “baik pak, sebentar ibu ganti baju dulu.”
Berangkat dari rumah langsung bertemu dokter di puskesmas.
“anak bapak terkena DBD dan harus di opnam di sini agar cepat sembuh, kira-kira 2 hari bapak untuk mendapatkan obat dan istirahat yang cukup.”
 “baiklah dok. Terima kasih.” “sama-sama. Semoga lekas sembuh pak.”
            Akhirnya misri di rawat di puskesmas. Dan esoknya bapak pulang untuk berdagang ke pasar lagi karena merasa daganganya lebih cepat habis jika keliling desa. Ketika dagangannya habis samsudin berjalan pulang, namun hari itu terlihat panas sekali akhirnya mampir ke warung langganan untuk minum es dan sambil berfikir bagaimana dapet uang lebih untuk membayar biaya opnam misri dan biaya sehari-hari untuk istrinya yang sedang hamil. Ketika segelas es mualai habis teringat dengan yusuf yang pernah meminjam uang lima juta rupiah untuk modal usaha buka wartegnya mungkin aku bisa memintanya kembali.
 “assalamuilaikum yusuf.”
“walaikumsalam. Siapa ya ?”
“ini aku samsudin temen lama mu.”
“oh iya din ,apa kabar kamu sekarang ?”
“baik suf, kamu sendiri ?”
“baik din. Sekarang gimana kamu ?”
“masih seperti biasa suf masih berdagang namun alhamdulilah daganganku laris  mungkin karena sering kau unggah di dunia maya tentang jajanan ku ini.”
 “hehheeh bisa saja kau din. Ini kan sudah jadi rezekinya kamu juga.”
“iya amin suf semoga berkah suf. Oh iya din kita bisa bertemu engga ya soalnya hal yang ingin aku ceritakan , ketemu di warung biasa saja, tempat kita biasa  bertemu.”
“oh iya din bisa bisa. Kapan emangnya ?”
 “bagaimana kalau besok siang ?”
 “oke din bisa.”
 “yaudah suf . sampai jumpa besok.”
“Sesampainya di tempat yusuf dan samsudin pun bercerita ke sana-kemari, hingga pada satu Samsudin ingin bercerita serius.”
“yuf, aku minta maaf sebelumnya..”
  “iya, ada apa din ? kaya engga biasanya saja.”
 “begini suf, anakku si misri lagi di opnam karena lagi terkena DBD dan istriku lagi hamil juga butuh biaya besar suf.”
 “terus aku bisa bantu apa din ?”
“pas waktu itu kan kamu pernah pinjam uang suf ya lima juta untuk modal buka warteg”
“Kamu. Bisa di kembalikan secepatnya suf ? uang itu untuk aku gunakan membayar opnam anakku yang kena DBD di puskesmas dan buat biaya sehari-hari istriku.”
“hah hutang ? bukannya aku sudah bayar 3 bulan yang lalu din ? apa kamu tidak ingat itu ?”
“aku tidak merasa menerima uang dari kamu suf.”
“ah aku sudah bayar hutang kepada kamu din. Aku tidak mau bayar utang lagi , bisa-bisa aku rugi nanti din.”
“yaudah lah gini aja suf bagaimana aku bekerja di tempat usaha kamu biar bisa aku tambah-tambah penghasilan ku , aku kerjanya setelah berjualan jajanan aku suf”.
“yaudah din . yang penting aku nga mau bayar utang lagi, karena aku rasa sudah bayar hutang ku padamu yang lima juta itu din.”

  Akhirnya samsudin bekerja pada tempat ysusuf bekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar